Oleh : Ali Aminulloh
Senin, 13 April 2026, bukan sekadar hari seleksi bagi calon staf unit usaha KSU Desa Kota Indonesia. Ia menjadi ruang pembuktian bahwa bekerja di koperasi bukan hanya soal kompetensi, melainkan juga soal kesadaran, kejujuran, dan niat mengabdi.
Sebanyak 14 calon staf mengikuti proses taftisy yang digelar untuk menyempurnakan hajat staf sumber daya manusia di berbagai unit usaha. Rinciannya, lima orang diproyeksikan mengisi Toko Kodeko Galaxy Bekasi, empat orang untuk Toko Kodeko Pondok Cabe, tiga orang di Toko Kodeko Pusat, serta masing-masing satu orang untuk posisi Admin USP dan Admin Administrasi KSU.
Satu per satu, para calon staf tampil memperkenalkan diri. Mereka tidak hanya memaparkan pengalaman kerja dan organisasi, tetapi juga membuka diri untuk mengungkapkan kelebihan sekaligus mengakui kekurangan. Lebih dari itu, mereka ditantang untuk menjelaskan langkah konkret dalam memperbaiki kelemahan tersebut. Sebuah proses yang tidak hanya menguji kemampuan, tetapi juga kejujuran diri.
Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, menggali lebih dalam: sejauh mana mereka memahami koperasi, visi dan misinya, hingga kesiapan menjadi bagian dari ekosistem yang berbasis kebersamaan. Para calon staf juga diminta menyampaikan gagasan: bagaimana meningkatkan keuntungan koperasi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Namun seleksi ini tidak berhenti pada aspek teknis. Ia masuk ke wilayah yang lebih mendasar: motivasi. Para calon staf diarahkan untuk menempatkan pekerjaan sebagai bentuk ibadah kepada Allah melalui aktivitas ekonomi. Sebuah pendekatan yang menegaskan bahwa kerja dan spiritualitas bukan dua hal yang terpisah.
Kesiapan total pun diuji, apakah mereka siap all out, siap menjaga dedikasi, loyalitas, dan integritas. Bahkan komitmen untuk tidak melakukan korupsi ditegaskan sejak awal, menjadi fondasi moral yang tidak bisa ditawar.
Menariknya, di penghujung sesi, pertanyaan tentang gaji tetap diajukan. Namun, penutup dari proses ini justru menggeser cara pandang: bahwa berkoperasi adalah berjamaah. Menjadi staf bukan semata untuk memperoleh penghasilan, tetapi untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Di sanalah koperasi menemukan maknanya: sebagai tempat belajar, tempat mengabdi, sekaligus ruang bertumbuh. Sebuah perjalanan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual, tetapi juga memperkuat kecerdasan emosional dan spiritual.
Seleksi ini, pada akhirnya, bukan hanya memilih siapa yang layak bekerja. Tetapi siapa yang siap berjalan bersama, dalam semangat kebersamaan yang memberi arti lebih luas dari sekadar pekerjaan.