Oleh: Ali Aminulloh
Pagi itu, Selasa, 21 April 2026, kawasan Galaxy terasa berbeda. Bukan sekadar riuh aktivitas harian, tetapi denyut semangat yang terasa hangat, ada harapan yang sedang dirajut bersama. Tepat di Hari Kartini, sebuah langkah baru lahir: KSU Desa Kota Indonesia resmi membuka Toko Kodeko ketiganya.
Di balik peresmian ini, ada lebih dari sekadar ekspansi usaha. Ada cerita tentang kedekatan, kebersamaan, dan keyakinan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari akar keluarga.
Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Ibu Anis Khairunnisa, S.Th.I. MAP. menegaskan bahwa hadirnya Kodeko di Galaxy bukanlah keputusan sepihak. Ia lahir dari keinginan anggota sendiri, dari kebutuhan yang tumbuh di tengah kehidupan mereka. “Kami ingin unit usaha ini dekat dengan anggota. Mudah dijangkau, terasa memiliki,” ujarnya dalam sambutan.
Menariknya, representatif Jakarta Timur sejatinya telah lebih dulu merintis dibanding toko kedua di Pondok Cabe. Namun, kendala administrasi membuat langkah mereka sempat tertahan. Alih-alih berhenti, mereka memilih mencari jalan lain, dan Galaxy menjadi jawabannya.
Acara grand opening dipimpin oleh Sunarto (Representatif Jakarta Timur), yang sejak awal terlihat optimistis. Semangat itu terasa sejak pembukaan, ketika tiga penari dari Star Z (Seni Tari Al Zaytun) menampilkan Tari Ratu Kota Jakarta. Gerakannya dinamis, penuh energi: seperti menggambarkan semangat perempuan yang terus bergerak, tak pernah diam.
Tepat pukul 10.24, gunting pita dilakukan. Sebuah momen sederhana, namun sarat makna. Didampingi pengawas Asrul Alamsyah, Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia meresmikan toko dengan nuansa kekeluargaan, tanpa jarak, tanpa sekat.
Namun, cerita sesungguhnya justru dimulai setelah pita terpotong.
Di lantai dua, dalam suasana hangat “Ramah Mamah”, suara tawa, ide, dan harapan saling bertukar. Dipandu oleh Dr. Ali Aminulloh, Sekretaris 1 KSU, acara dibuka dengan pantun ringan yang mencairkan suasana. Dari sana, diskusi mengalir tanpa kaku, jujur, hidup, dan penuh makna.
Pengawas KSU, Asrul Alamsyah, menyampaikan satu hal penting: Kodeko bukan sekadar toko. Ia adalah ruang tumbuh, tempat kreativitas, kebersamaan, dan masa depan dirawat bersama. “Langkah ini kecil, tapi dampaknya besar bagi bangsa,” ungkapnya.
Suara lain datang dari berbagai daerah. Perwakilan Banten, Parnoko, melihat Kodeko sebagai solusi nyata untuk menggerakkan ekonomi anggota. Bahkan ia mengajak untuk menjadikan Kodeko sebagai pusat belanja utama. Dari kalangan alumni, Moh. Imamudinussalam melihat peluang yang lebih segar: menjadikan Galaxy sebagai titik kumpul generasi muda, lengkap dengan produk yang relevan untuk Gen Z.
Sementara itu, target-target pun mulai dipasang. Jakarta Timur siap menembus angka 300 juta. Jakarta Utara membidik 80 juta. Jakarta Pusat bahkan mulai memikirkan lahirnya “Mini Kodeko” sebagai bentuk perluasan berbasis kebutuhan anggota.
Namun, diskusi tidak berhenti di angka dan strategi.
Di tengah perbincangan, muncul pertanyaan yang lebih mendasar yang disampaikan Syaifuddin, S.IP, M.Pd.: apakah semua anggota benar-benar memahami koperasi, bukan hanya sebagai tempat usaha, tetapi sebagai gerakan bersama?
Dari sinilah percakapan menjadi lebih dalam. Tentang pentingnya sistem, tentang komitmen simpanan wajib, tentang kebiasaan belanja sebagai penggerak ekonomi internal. Bahkan, bagaimana “dipaksa” menabung di awal justru bisa menjadi kekuatan finansial di masa depan hingga mampu menjadi agunan, bahkan kendaraan hidup yang lebih baik.
Pada penghujung acara, Ketua Umum KSU, dalam refleksi yang lebih luas, momen Kartini menjadi benang merah yang kuat. Bahwa perempuan bukan hanya pendamping, tetapi penggerak utama ekonomi keluarga dan masyarakat. Nama-nama seperti Raden Ajeng Kartini, Cut Nyak Dien, hingga Ratu Kalinyamat disebut sebagai inspirasi bahwa peran perempuan selalu hadir dalam setiap fase perjuangan bangsa.
Doa pun dipanjatkan untuk sosok inspiratif internal Kodeko yang belum lama wafat, Ibu Habibah (Srikandi Kodeko) yang dengan ketekunan membangun ekonomi dari nol hingga puluhan juta. Ia menjadi bukti bahwa keberhasilan bukan milik segelintir orang, tetapi milik mereka yang konsisten bergerak.
Perjalanan 13 tahun KSU Desa Kota Indonesia bukanlah waktu yang singkat. Ia dibangun dengan kesabaran, ketekunan, dan kepercayaan. Dari persoalan klasik seperti akses modal, pasar, hingga manajemen usaha, koperasi hadir sebagai jembatan menuju kesejahteraan bersama.
Namun satu hal yang menjadi penekanan kuat hari itu: koperasi bukan sekadar konsep. Ia adalah praktik. Ia harus dijalankan, dirasakan, bahkan jika perlu “diceburkan” agar benar-benar hidup.
Acara ditutup dengan pantun yang sederhana namun mengena, lalu hamdalah yang mengikat semuanya dalam rasa syukur. Tumpeng pun disajikan, menjadi simbol kebersamaan yang tak lekang oleh zaman.
Di Galaxy, hari itu, bukan hanya toko yang dibuka. Tetapi juga harapan bahwa dari perempuan, dari keluarga, dari koperasi, ekonomi bangsa bisa tumbuh lebih kuat, lebih hangat, dan lebih bermakna.