Oleh : Ali Aminulloh
Rabu, 15 April 2026 menjadi salah satu momen penting dalam rangkaian Bimbingan Terpadu Pelajar Angkatan XXII di Ma’had Al Zaytun. Pada sesi ketujuh, para pelajar tidak hanya menerima materi, tetapi diajak memasuki sebuah dunia gagasan: tentang ekonomi kolektif, kemandirian, dan masa depan yang dibangun bersama. Tema yang diangkat: pengenalan KSU Desa Kota Indonesia.
Suasana ruang Mini Zeteso Al Zaytun terasa hidup ketika empat tokoh koperasi hadir mengisi sesi tersebut: Dr. Ir. Bambang Triyoga, M.T., Syaifuddin, S.IP., M.Pd., dan Parnoko, S.IP., M.M., dengan Budiyanto, M.M. sebagai moderator yang mengarahkan alur diskusi tetap dinamis dan terstruktur.
Pemateri pertama, Dr. Bambang Triyoga, membuka cakrawala berpikir para pelajar dengan mengurai konsep koperasi secara komprehensif. Ia tidak sekadar menjelaskan definisi dan fungsi koperasi, tetapi juga menelusuri akar historisnya: dari gerakan koperasi dunia hingga perkembangan di Indonesia. Dalam paparannya, koperasi ditempatkan sebagai jawaban atas ketimpangan yang lahir dari sistem ekonomi kapitalistik, terutama sejak revolusi industri. Koperasi, menurutnya, bukan sekadar lembaga ekonomi, melainkan gerakan nilai yang mengedepankan keadilan dan kebersamaan.
Dari perspektif global itu, pembahasan kemudian ditarik ke konteks lokal melalui sejarah berdirinya KSU Desa Kota Indonesia. Di sinilah pelajar mulai melihat bahwa konsep besar yang mereka pelajari memiliki wujud nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.
Pemateri kedua, Syaifuddin, SIP. M.Pd. membawa diskusi ke arah yang lebih aplikatif. Ia memperkenalkan KSU Desa Kota Indonesia secara rinci: mulai dari sosok pendirinya, Syaykh A.S. Panji Gumilang, hingga aspek legalitas, visi-misi, struktur organisasi, serta Garis-Garis Besar Haluan Organisasi Koperasi (GBHOK).
Paparan ini tidak berhenti pada aspek administratif. Syaifuddin mengajak pelajar memahami dinamika perkembangan koperasi, termasuk pertumbuhan jumlah anggota, sistem simpanan, serta beragam unit usaha yang dikembangkan. Ia juga menegaskan keuntungan bergabung dalam koperasi, bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran kehidupan sosial.
Menariknya, ia mengaitkan praktik berkoperasi dengan gagasan pendidikan kontemporer Al Zaytun, yakni membangun kesadaran filosofis, ekologis, dan sosial. Ketiga kesadaran ini kemudian dipadukan dalam pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Art, and Spiritual), yang menjadi fondasi pembentukan manusia utuh: cerdas secara intelektual, peka secara sosial, dan kuat secara spiritual.
Sesi kemudian diperkaya oleh pemateri ketiga, Parnoko, S.IP. MM. yang menekankan aspek keunggulan dan keberlanjutan KSU Desa Kota Indonesia. Dengan gaya yang lebih persuasif, ia mengajak para pelajar untuk tidak berhenti pada pemahaman, tetapi melangkah pada keterlibatan nyata.
Ia mendorong para alumni untuk melanjutkan pendidikan di IAI Al-Azis, sekaligus bergabung dalam KSU Desa Kota Indonesia sebagai bagian dari gerakan ekonomi bersama. Ajakan tersebut diperluas melalui pengenalan IKAMAZ (Ikatan Alumni Ma’had Al Zaytun), sebagai wadah sinergi alumni dalam membangun jaringan ekonomi dan pendidikan.
Tak hanya itu, Parnoko juga memperkenalkan berbagai produk unggulan koperasi sebagai bukti konkret bahwa KSU Desa Kota Indonesia bukan sekadar konsep, melainkan ekosistem ekonomi yang hidup dan berkembang. Harapannya, para pelajar hari ini akan menjadi pelaku utama di masa depan: melanjutkan, mengembangkan, dan memperkuat koperasi sebagai pilar kemandirian bangsa.
Sesi ini pada akhirnya tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga menanamkan visi. Bahwa ekonomi tidak harus selalu kompetitif dan individualistik. Ada jalan lain, yaitu jalan kolektif yang dibangun atas dasar nilai, kebersamaan, dan keberlanjutan. Dan di tangan para pelajar inilah, benih itu mulai ditanam.