Oleh : Ali Aminulloh
Menjelang senja di bulan Ramadhan, ketika langit perlahan berubah warna dan waktu berbuka semakin dekat, kebersamaan sering menemukan bentuknya yang paling hangat. Di meja makan sederhana atau di sudut restoran yang penuh canda, hubungan yang semula formal bisa mencair menjadi persaudaraan yang lebih erat.
Salah satu cara sederhana namun bermakna untuk membangun chemistry dalam sebuah organisasi adalah melalui buka bersama, atau yang akrab disebut bukber. Kegiatan ini bukan sekadar ritual membatalkan puasa setelah seharian menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, bukber menjadi ruang perjumpaan yang menghadirkan kedekatan, mencairkan jarak, dan menumbuhkan rasa kebersamaan.
Dalam konteks organisasi atau korporasi, suasana informal saat bukber seringkali justru menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antaranggota. Struktur dan jabatan seakan melebur. Tidak ada sekat antara pimpinan dan staf. Semua menyatu sebagai satu organ yang bergerak menuju tujuan bersama.
Momentum itulah yang terasa pada Ahad, 8 Maret 2026. Pengurus KSU Desa Kota Indonesia menggelar acara buka bersama yang dihadiri Ketua Umum, jajaran pengurus, serta para kepala unit usaha. Mereka berasal dari berbagai unit, mulai dari Unit USP, Unit Mulbako, Unit Toko Kodeko, hingga Unit Administrasi Keuangan.
Bertempat di Restoran Kelapa Manis, Kecamatan Beber, Kabupaten Cirebon, suasana sore itu terasa hangat dan santai. Tidak ada agenda resmi yang kaku. Semua berjalan secara informal, penuh keakraban.
Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Ibu Anis Khoirunnisa, S.Th.I., MAP, menyampaikan bahwa sesekali pengurus KSU memang perlu keluar dari rutinitas formal.
“Kita perlu rileks, keluar dari aktivitas rutin supaya lebih fresh,” ujarnya dengan senyum hangat.
Sambil menunggu waktu berbuka, para pengurus berbincang ringan tentang berbagai program organisasi. Salah satu topik yang cukup menyita perhatian adalah rencana program travel ke kawasan ASEAN. Program ini bahkan memunculkan antusiasme tersendiri.
“Bisa jalan-jalan ke luar negeri tanpa harus mengeluarkan uang,” ujar Syaefudin, M.Pd., dengan nada optimistis. “Kita tinggal mencicil saja.”
Percakapan santai itu membuat waktu terasa berjalan cepat. Hingga akhirnya azan Maghrib berkumandang, menandai tibanya saat berbuka.
Acara buka bersama diawali dengan doa yang dipimpin oleh Sekretaris KSU, Ust. Ali Aminulloh. Suasana menjadi khidmat sejenak, sebelum kemudian kembali hangat dengan senyum dan percakapan ringan.
Momen berbuka terasa semakin berkesan. Di tengah hidangan yang tersaji, para pengurus menikmati suasana alam yang sejuk. Dari restoran itu, hamparan lampu kota terlihat perlahan menyala, menghadirkan panorama malam yang menenangkan mata.
Canda ringan sesekali pecah di antara mereka. Tawa kecil mengiringi obrolan yang mengalir tanpa jarak.
Namun kebersamaan itu tidak berhenti pada santai semata. Usai berbuka, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan berbagai ajuan dan kontrak kerja. Ketua Umum dengan teliti meminta penjelasan dari setiap pengajuan yang diajukan para kepala unit.
Pada kesempatan yang sama, Kepala HRD juga memanfaatkan momentum tersebut untuk berdiskusi mengenai rencana rekrutmen sumber daya manusia guna melengkapi kebutuhan unit-unit usaha.
Bukber yang semula hanya diniatkan sebagai ajang kebersamaan, ternyata juga melahirkan banyak keputusan penting bagi organisasi.
Karena itu, tidak berlebihan jika pepatah lama terasa begitu tepat menggambarkan suasana malam itu: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Dalam satu momentum kebersamaan, tercipta kehangatan, perencanaan, sekaligus langkah-langkah baru untuk masa depan organisasi.
Dan dari sebuah meja berbuka di bulan Ramadhan, sebuah organisasi kembali menguatkan ikatan yang menjadi fondasi perjalanan bersama.