KODEKO / Blog

Kolaborasi Representatif KSU Desa Kota dan PKBM Al Zaytun: Mengajak Ibu-Ibu Bergerak dalam Koperasi

Kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dengan modal yang besar. Ia dapat tumbuh dari sebuah kesadaran sederhana: berani menyisihkan penghasilan secara disiplin, memenuhi kewajiban sebagai anggota, dan membangun kekuatan bersama melalui koperasi. Kesadaran itulah yang mulai ditanamkan kepada ibu-ibu PIP Blok Gabel melalui kolaborasi representatif istri civitas KSU Desa Kota Indonesia, PKBM Al Zaytun, dan Paguyuban Istri Peduli.

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E. | 17 Jul 2026, 09:04 | 7 menit baca | Diperbarui 19 Jul 2026, 09:48
Kolaborasi Representatif KSU Desa Kota dan PKBM Al Zaytun: Mengajak Ibu-Ibu Bergerak dalam Koperasi
KODEKO Editorial

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.

Tutor PKBM Al Zaytun dan Dewi Asih Nusantari (Representatif Civitas)

Kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dengan modal yang besar. Ia dapat tumbuh dari sebuah kesadaran sederhana: berani menyisihkan penghasilan secara disiplin, memenuhi kewajiban sebagai anggota, dan membangun kekuatan bersama melalui koperasi. Kesadaran itulah yang mulai ditanamkan kepada ibu-ibu PIP Blok Gabel melalui kolaborasi representatif istri civitas KSU Desa Kota Indonesia, PKBM Al Zaytun, dan Paguyuban Istri Peduli.

Ajakan berkoperasi menjadi warna utama dalam kegiatan rutin istighasah yang dilaksanakan di Blok Gabel, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu, 8 Juli 2026. Pertemuan yang dimulai pukul 14.00 WIB itu diikuti sekitar 20 ibu dari Blok Gabel, Tanjungjati, dan Tanjunggarut.

Di tengah suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan spiritual, pendidikan, dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan dalam satu tarikan napas. Istighasah menguatkan batin, PKBM Al Zaytun menumbuhkan kesadaran pendidikan, sedangkan KSU Desa Kota Indonesia membuka jalan menuju kemandirian ekonomi melalui gerakan berkoperasi.

Kegiatan istighasah yang diselenggarakan setiap dua pekan sekali itu dibuka dengan khidmat oleh Ibu Wasiyem, alumni PKBM Al Zaytun, yang bertugas sebagai pembawa acara. Para peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh perhatian.

Pertemuan tersebut tidak hanya berisi kegiatan keagamaan. Di dalamnya juga disampaikan laporan keuangan Jamaah Ka’batullah Indonesia atau JKI, laporan kas blok, laporan sedekah subuh, serta berbagai informasi terbaru mengenai kegiatan ibu-ibu dan program kemasyarakatan.

Keterbukaan laporan keuangan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan di antara anggota. Melalui kebiasaan melaporkan pemasukan, pengeluaran, dan penggunaan dana secara terbuka, para ibu belajar tentang amanah, tanggung jawab, serta pentingnya pengelolaan organisasi yang sehat.

Nilai-nilai tersebut memiliki hubungan erat dengan kehidupan koperasi. Koperasi tidak akan tumbuh hanya karena memiliki banyak anggota. Koperasi akan berkembang apabila para anggotanya memiliki kesadaran, kejujuran, kedisiplinan, serta kemauan untuk terlibat secara aktif.

Pada kesempatan itu, Ketua Paguyuban Istri Peduli, Sri Wahyuni, S.Pd., memberikan apresiasi kepada warga Blok Gabel yang telah menuntaskan pendidikan melalui PKBM Al Zaytun, khususnya mereka yang sebelumnya belum menyelesaikan pendidikan pada jenjang sekolah menengah atas.

Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa semangat belajar tidak dibatasi oleh usia maupun keadaan. Para ibu telah menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan dapat kembali diraih ketika ada kemauan, dukungan lingkungan, dan lembaga pendidikan yang memberikan ruang untuk tumbuh.

Menurut Sri Wahyuni, pendidikan merupakan bekal penting dalam membangun keluarga yang cerdas, mandiri, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Namun, pendidikan tidak boleh berhenti pada perolehan ijazah. Pengetahuan dan pengalaman belajar harus melahirkan keberanian untuk mengambil bagian dalam kegiatan produktif, termasuk membangun kemandirian ekonomi melalui koperasi.

“Alhamdulillah, ibu-ibu telah menunjukkan semangat belajar yang luar biasa. Setelah berhasil menyelesaikan pendidikan dan blok kita akhirnya tuntas, selanjutnya kita akan melangkah dengan mengikuti program lainnya, yaitu Kodeko. Semoga ilmu yang nanti disampaikan dapat dipahami,” ujar Sri Wahyuni.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa perjalanan para ibu tidak berhenti setelah menyelesaikan pendidikan melalui PKBM Al Zaytun. Setelah kesadaran berpendidikan tumbuh, langkah berikutnya adalah membangun kesadaran berkoperasi.

Sebelum memasuki sesi utama mengenai Kodeko, Sri Wahyuni menyampaikan pengantar tentang pentingnya bergabung dan berpartisipasi dalam koperasi. Menurutnya, koperasi merupakan wadah bagi masyarakat untuk belajar mengelola ekonomi secara bersama-sama berdasarkan semangat kekeluargaan.

Berkoperasi bukan sekadar mendaftarkan nama sebagai anggota. Menjadi anggota koperasi berarti bersedia mengambil bagian, memenuhi kewajiban, menjaga kepercayaan, serta ikut membesarkan usaha bersama. Dalam koperasi, setiap anggota bukan hanya pengguna layanan, melainkan juga pemilik yang memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan organisasi.

Karena itu, ibu-ibu didorong untuk tidak hanya memahami koperasi secara teoritis, tetapi mulai mengambil langkah nyata dengan bergabung dan menjalankan kewajibannya secara disiplin di KSU Desa Kota Indonesia.

Sesi utama kemudian disampaikan oleh Ibu Dewi Asih, Pembina Paguyuban sekaligus representatif istri civitas KSU Desa Kota Indonesia. Kehadirannya menjadi bagian dari kolaborasi antara gerakan pendidikan PKBM Al Zaytun, pembinaan masyarakat melalui PIP, dan gerakan ekonomi kerakyatan yang dikembangkan KSU Desa Kota Indonesia.

Dalam paparannya, Dewi Asih menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada para ibu yang telah bergabung menjadi anggota dan mengikuti program Kodeko. Namun, ia juga mengingatkan bahwa keanggotaan harus disertai komitmen dan kedisiplinan.

Keberhasilan koperasi sangat ditentukan oleh kesadaran para anggotanya dalam memenuhi kewajiban, termasuk menyetorkan simpanan secara rutin. Tanpa partisipasi aktif anggota, koperasi akan sulit berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

“Ternyata faktor rajin menyetor bukan semata-mata karena seseorang berkecukupan, melainkan karena adanya kesadaran. Kesadaran berarti memahami bahwa kewajiban harus menjadi prioritas. Dari kedisiplinan itulah lahir keberkahan, kepercayaan, dan manfaat bersama,” tutur Dewi Asih.

Pernyataan itu disambut anggukan para peserta. Kalimatnya sederhana, tetapi menyentuh persoalan mendasar dalam kehidupan koperasi: kesadaran untuk mendahulukan kewajiban sebelum menuntut manfaat.

Seseorang yang rajin menyetor simpanan belum tentu memiliki penghasilan yang paling besar. Bisa jadi ia memiliki keterbatasan yang sama dengan anggota lainnya. Namun, ia memahami bahwa simpanan tersebut merupakan tanggung jawab yang telah disepakati dan menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan ekonomi bersama.

Dari kebiasaan menyetor secara rutin, anggota belajar mengatur keuangan, menentukan prioritas, dan menumbuhkan kedisiplinan. Dari kedisiplinan lahir kepercayaan. Dari kepercayaan tumbuh kekuatan organisasi. Selanjutnya, dari organisasi yang sehat akan lahir manfaat ekonomi yang dapat dirasakan bersama.

Koperasi pada hakikatnya mengubah kekuatan kecil yang tersebar menjadi kekuatan besar yang terorganisasi. Simpanan seorang anggota mungkin terlihat tidak besar, tetapi apabila dilakukan secara disiplin oleh banyak anggota dan dikelola dengan amanah, dana tersebut dapat menjadi modal yang menggerakkan berbagai kegiatan usaha.

Karena itu, ajakan untuk bergabung dalam KSU Desa Kota Indonesia bukan sekadar ajakan menabung. Ajakan tersebut merupakan panggilan untuk belajar membangun ekonomi bersama, memperkuat solidaritas, serta mengurangi ketergantungan kepada kekuatan ekonomi di luar komunitas.

Kolaborasi antara representatif istri civitas KSU Desa Kota Indonesia, PKBM Al Zaytun, dan PIP memperlihatkan adanya kesinambungan pembinaan. PKBM Al Zaytun membekali masyarakat dengan pengetahuan dan kepercayaan diri. PIP menjadi ruang silaturahmi sekaligus penguatan spiritual dan sosial. Sementara itu, KSU Desa Kota Indonesia menyediakan wadah untuk menerapkan nilai kebersamaan dalam aktivitas ekonomi yang nyata.

Kolaborasi itu tidak berhenti pada penyampaian materi. Dampaknya terlihat secara langsung pada penghujung acara. Ibu Wasiyem, alumni PKBM Al Zaytun yang sejak awal memandu kegiatan sebagai pembawa acara, menyatakan kesediaannya untuk mendaftarkan diri sebagai anggota Kodeko.

Keputusan tersebut menjadi bukti bahwa edukasi yang disampaikan mampu menggugah kesadaran dan mendorong tindakan nyata. Ibu Wasiyem tidak hanya mendengarkan penjelasan tentang koperasi, tetapi langsung mengambil langkah untuk menjadi bagian dari gerakan ekonomi bersama.

Keberaniannya mendaftarkan diri juga memperlihatkan hubungan antara pendidikan dan perubahan sikap. Pengalaman belajar di PKBM Al Zaytun telah menumbuhkan rasa percaya diri untuk menerima gagasan baru, mempertimbangkan manfaatnya, dan menentukan pilihan secara mandiri.

Satu orang yang bergabung mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Namun, dalam gerakan koperasi, setiap anggota baru adalah tambahan energi, kepercayaan, dan kekuatan. Keputusan seorang ibu juga dapat menginspirasi ibu-ibu lainnya untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut terlibat membangun kesejahteraan bersama.

Kegiatan PIP Blok Gabel tersebut memperlihatkan bahwa istighasah bukan hanya ruang untuk memanjatkan doa, melainkan juga momentum untuk menumbuhkan kesadaran sosial dan ekonomi. Doa yang dilantunkan bersama harus melahirkan semangat untuk berikhtiar, bekerja, belajar, dan membangun kemandirian.

Spiritualitas memberikan landasan moral agar setiap kegiatan ekonomi dijalankan dengan jujur dan amanah. Pendidikan memberikan pengetahuan agar masyarakat mampu mengambil keputusan secara rasional. Adapun koperasi memberikan ruang agar pengetahuan, disiplin, dan kebersamaan dapat diubah menjadi kekuatan ekonomi.

Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan keluarga-keluarga yang religius, berilmu, disiplin, mandiri, dan sejahtera. Keluarga yang memiliki kekuatan spiritual akan memiliki pedoman dalam bertindak. Keluarga yang sadar pendidikan akan terus belajar. Sementara itu, keluarga yang aktif berkoperasi akan memiliki pengalaman dalam membangun ekonomi secara terencana dan bersama-sama.

Gerakan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program bersama Ma’had Al Zaytun sesuai arahan pimpinan, Syaykh, agar masyarakat tidak berhenti pada kesadaran individual, tetapi bergerak menuju kemandirian kolektif yang memberikan manfaat bagi banyak orang.

Tepat pukul 16.00 WIB, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan membaca hamdalah. Para peserta kemudian berfoto bersama untuk mengabadikan kebersamaan sore itu.

Namun, yang terpenting bukanlah foto yang dibawa pulang. Para ibu diharapkan pulang dengan membawa kesadaran baru: kesadaran untuk terus belajar, kesadaran untuk memenuhi kewajiban, serta kesadaran untuk mengambil bagian dalam KSU Desa Kota Indonesia.

Dari istighasah, tumbuh kekuatan spiritual. Dari PKBM Al Zaytun, lahir keberanian untuk belajar. Dari PIP, terbangun kebersamaan. Sementara itu, melalui KSU Desa Kota Indonesia, kesadaran tersebut diarahkan menjadi gerakan ekonomi yang mandiri dan produktif.

Kini, langkah berikutnya berada di tangan para ibu. Bukan hanya memahami koperasi, tetapi bergabung, disiplin menyetor, aktif berpartisipasi, dan ikut membesarkan usaha bersama. Sebab, koperasi tidak dibangun oleh orang lain untuk anggotanya. Koperasi dibangun, dimiliki, dan dibesarkan oleh kesadaran para anggotanya sendiri.