KODEKO / Blog

Representatif KSU Desa Kota Indonesia Apresiasi Semangat Ekonomi Produktif Warga Belajar PKBM Al Zaytun

Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, membangun kemandirian ekonomi keluarga tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Kesadaran untuk menabung, kedisiplinan dalam mengelola keuangan, semangat gotong royong, serta kemauan untuk terus belajar sering kali menjadi fondasi yang jauh lebih kuat. Nilai-nilai itulah yang tampak hidup dalam kegiatan Paguyuban Istri Peduli (PIP).

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E. | 20 Jun 2026, 15:45 | 5 menit baca | Diperbarui 25 Jun 2026, 13:29
Representatif KSU Desa Kota Indonesia Apresiasi Semangat Ekonomi Produktif Warga Belajar PKBM Al Zaytun
KODEKO Editorial

Oleh: Sri Wahyuni, S.Pd.

Anggota KSU Desa Kota Indonesia dan Tutor PKBM Al Zaytun

Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat saat ini, membangun kemandirian ekonomi keluarga tidak selalu harus dimulai dari modal besar. Kesadaran untuk menabung, kedisiplinan dalam mengelola keuangan, semangat gotong royong, serta kemauan untuk terus belajar sering kali menjadi fondasi yang jauh lebih kuat. Nilai-nilai itulah yang tampak hidup dalam kegiatan Paguyuban Istri Peduli (PIP), warga belajar, alumni, dan tutor PKBM Al Zaytun yang berlangsung di Tirta Gaza, Janggot, Gantar, Indramayu, Ahad (14/6/2026).

Sejak pagi hari, puluhan ibu-ibu berseragam merah muda memadati lokasi kegiatan. Namun pertemuan tersebut bukan sekadar ajang silaturahmi rutin. Di dalamnya tersimpan semangat membangun ekonomi keluarga yang lebih mandiri melalui pendidikan, kewirausahaan, kesehatan, dan penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat.

Kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu oleh Bu Esih serta alumni PKBM Al Zaytun, Pujiyati dan Suratmi. Suasana penuh semangat dan kebersamaan menjadi pembuka rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga siang hari.

Usai senam, perhatian peserta tertuju pada bazar produk warga belajar dan alumni PKBM Al Zaytun. Berbagai hasil usaha rumahan dipajang dengan rapi. Sofie, alumni termuda yang baru lulus beberapa bulan lalu, menawarkan menu sate lontong hasil usahanya. Pujiyati menghadirkan produk dagangan rumahan, sementara warga belajar lainnya membawa hasil pertanian dan sayur-mayur segar.

Bazar tersebut menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan yang diperoleh melalui PKBM tidak hanya mendorong peningkatan kompetensi akademik, tetapi juga menumbuhkan keberanian berwirausaha dan menciptakan sumber penghasilan keluarga. Dari kegiatan sederhana itu, tumbuh semangat ekonomi produktif yang berakar dari kemandirian dan kreativitas masyarakat.

Selain aspek ekonomi, kegiatan juga diisi dengan layanan pemeriksaan kesehatan bagi masyarakat sekitar. Berbagai layanan seperti pengecekan tekanan darah, gula darah, kolesterol, kadar oksigen darah, suhu tubuh, dan berat badan dilakukan dengan biaya yang terjangkau. Program ini dipantau langsung oleh tenaga kesehatan Bu Siti Juwariyah bersama tim dan alumni PKBM Al Zaytun.

Setelah rehat sejenak, kegiatan berlanjut pada agenda laporan dan evaluasi bulanan yang diikuti sekitar 35 warga belajar, alumni, dan tutor PKBM Al Zaytun yang tergabung dalam Paguyuban Istri Peduli (PIP).

Dalam forum tersebut, para penanggung jawab blok menyampaikan laporan perkembangan kegiatan sosial, pendidikan, dan ekonomi di wilayah masing-masing. Mulai dari laporan donasi, kondisi warga yang membutuhkan perhatian, hingga perkembangan pendataan warga yang belum menyelesaikan pendidikan setingkat SMA.

Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian khusus adalah perkembangan partisipasi anggota dalam Kodeko atau Koperasi Desa Kota Indonesia (KSU Desa Kota Indonesia).

Dalam arahannya, Dewi Asih Nusantari selaku Representatif Istri Civitas Al Zaytun dan Representatif KSU Desa Kota Indonesia menyampaikan bahwa dari sekitar 440 istri civitas yang telah terdaftar sebagai anggota, baru sekitar 150 orang yang aktif melakukan setoran rutin setiap bulan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih diperlukan pemahaman yang lebih luas mengenai pentingnya koperasi sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi keluarga dan sarana membangun ketahanan ekonomi masyarakat dari bawah.

Ia menegaskan bahwa anggota yang disiplin melakukan setoran bukanlah mereka yang paling mampu secara ekonomi, melainkan mereka yang memiliki kesadaran dan tanggung jawab dalam mengelola keuangan keluarga.

"Orang yang rajin setor setiap bulan bukan selalu orang yang paling mampu, tetapi mereka yang sadar akan kewajibannya dan mampu memprioritaskannya," ungkapnya.

Untuk memperkuat pesan tersebut, Dewi Asih Nusantari mencontohkan Nurul Rohmah, warga belajar kelas B1 PKBM Al Zaytun. Di tengah kesibukannya sebagai ketua kelas, pengurus Kodeko di bloknya, serta pengelola usaha toko dan jahit, ia tetap aktif menjalankan kewajibannya sebagai anggota koperasi.

Meski usahanya kadang harus tutup karena banyak aktivitas, ketika kembali dibuka pembeli selalu berdatangan. Menurutnya, hal tersebut merupakan keberkahan dari tanggung jawab yang dijaga dengan baik.

Contoh lainnya adalah Siti Hajar, warga belajar kelas B3 yang dikenal tidak pernah absen melakukan setoran bulanan. Meski hidup dalam kesederhanaan, ia tetap berkomitmen memenuhi tanggung jawabnya sebagai anggota koperasi.

Kisah-kisah tersebut menjadi inspirasi bagi peserta yang hadir bahwa keberhasilan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga oleh kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola keuangan secara konsisten.

Forum evaluasi tersebut juga memperlihatkan bagaimana program pendidikan dan ekonomi berjalan beriringan. Data yang disampaikan Sri Wahyuni selaku Ketua PIP dan tutor PKBM Al Zaytun menunjukkan capaian yang menggembirakan.

Dari sekitar 250 warga yang sebelumnya belum menyelesaikan pendidikan, kini tersisa sekitar 24 orang yang masih dalam proses pendampingan. Bahkan empat blok di wilayah Gantar, yaitu Nambo, Punduhan, Babakan Plaza, dan Cibanoang, telah berhasil menuntaskan pendataan dan pendaftaran seluruh warga yang belum menyelesaikan pendidikan ke program PKBM Al Zaytun.

Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi masyarakat tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan membuka wawasan, menumbuhkan kepercayaan diri, memperluas peluang usaha, sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang dimilikinya.

Menjelang berakhirnya kegiatan, peserta juga menyerahkan sedekah Muharam yang telah dikumpulkan dari masing-masing blok. Tradisi berbagi tersebut menjadi bagian dari pendidikan sosial yang selama ini terus ditanamkan dalam lingkungan PIP dan PKBM Al Zaytun.

Pada pukul 12.30 WIB kegiatan resmi ditutup. Namun sebagian pengurus masih melanjutkan rapat koordinasi untuk mempersiapkan kunjungan ke berbagai blok serta merancang Bazar Kolaborasi PIP dan PKBM Al Zaytun yang direncanakan berlangsung pada pertengahan Juli mendatang.

Hari itu, Tirta Gaza tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya para ibu-ibu. Ia menjadi ruang belajar tentang bagaimana pendidikan, koperasi, kewirausahaan, kesehatan, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang mandiri dan sejahtera.

Melalui PKBM Al Zaytun dan KSU Desa Kota Indonesia, para perempuan membuktikan bahwa perubahan ekonomi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: belajar, menabung, berusaha, bergotong royong, dan saling menguatkan.

Karena sesungguhnya, ekonomi yang kuat tidak hanya dibangun oleh modal, tetapi juga oleh kesadaran, kedisiplinan, dan kebersamaan. Dari kesadaran itulah lahir masyarakat yang produktif, berdaya, dan mampu menjadi penopang ketahanan ekonomi keluarga serta lingkungannya.

Editor : Ali Aminulloh