KODEKO / Blog

Menjaring Penggerak dari Daerah, KSU Desa Kota Indonesia Gelar Taftisy Calon Representatif

Representatif bukan sekadar sebuah jabatan. Ia merupakan amanah untuk menghadirkan koperasi di tengah masyarakat, membangun kepercayaan anggota, mengembangkan potensi usaha, serta menghubungkan semangat kebersamaan dari desa hingga kota. Kesadaran itulah yang mewarnai pelaksanaan taftisy calon representatif KSU Desa Kota Indonesia pada Senin, 20 Juli 2026.

Oleh Dr. Ali Aminulloh, S.Ag., M.Pd.I., M.E. | 20 Jul 2026, 12:33 | 3 menit baca | Diperbarui 22 Jul 2026, 11:56
Menjaring Penggerak dari Daerah, KSU Desa Kota Indonesia Gelar Taftisy Calon Representatif
KODEKO Editorial

Menjaring Penggerak dari Daerah, KSU Desa Kota Indonesia Gelar Taftisy Calon Representatif

Oleh Ali Aminulloh

Representatif bukan sekadar sebuah jabatan. Ia merupakan amanah untuk menghadirkan koperasi di tengah masyarakat, membangun kepercayaan anggota, mengembangkan potensi usaha, serta menghubungkan semangat kebersamaan dari desa hingga kota. Kesadaran itulah yang mewarnai pelaksanaan taftisy calon representatif KSU Desa Kota Indonesia pada Senin, 20 Juli 2026.

Taftisy kali ini diikuti oleh tiga calon representatif. Dua peserta berasal dari Provinsi Banten, yakni Abdul Rahman bin Djalih sebagai calon representatif Kota Tangerang dan Mujibu bin H. Yusuf Marta sebagai calon representatif Kabupaten Lebak. Satu peserta lainnya adalah Susiyanti binti Warijo, calon representatif Istri Civitas Al-Zaytun.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim yang ditugaskan sekaligus mewakili Ketua Umum KSU Desa Kota Indonesia, Anis Khoirunnisa, S.Th.I., M.A.P. Tim terdiri atas empat orang mufattis, yaitu Dr. Ali Aminulloh, M.Pd.I., M.E. selaku Sekretaris I, Dr. Ir. Bambang Triyoga, M.T. selaku Bendahara 1 Syaifuddin, S.IP., M.Pd. (HRD) dan Primuhardi, S.E (Bendahara 2/Akunting) Adapun proses taftisy didokumentasikan oleh Budiyanto, M.M. sebagai notulis.

Berbeda dari wawancara formal yang terasa kaku, taftisy berlangsung dalam suasana hangat, dialogis, dan penuh keakraban. Setiap peserta diberi ruang untuk menceritakan pengalaman, menyampaikan gagasan, serta menunjukkan kesiapan dirinya menjadi penggerak koperasi di wilayah masing-masing. Meski berlangsung santai, pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan tetap diarahkan untuk menggali potensi, integritas, dan komitmen setiap calon secara mendalam.

Dr. Ali Aminulloh menggali latar belakang peserta, terutama pengalaman dalam berorganisasi, perjalanan pekerjaan, kemampuan berkomunikasi, serta berbagai kemahiran yang dapat mendukung tugas sebagai representatif. Pengalaman tersebut penting karena representatif akan berhadapan langsung dengan anggota dan masyarakat yang memiliki latar belakang serta kebutuhan beragam.

Penggalian kemudian dilanjutkan oleh Dr. Bambang Triyoga yang menelusuri pemahaman peserta mengenai jati diri koperasi, visi dan misi KSU Desa Kota Indonesia, serta arah pengembangan organisasi. Para calon juga diajak menjelaskan langkah-langkah nyata yang akan mereka lakukan untuk memperkenalkan, mengembangkan, dan memajukan KSU di wilayah tugasnya.

Pertanyaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis. Syaifuddin, S.IP., M.Pd. menggali motivasi, loyalitas, kesiapan mengabdi, dan kesediaan peserta mendedikasikan waktu serta pikirannya untuk kepentingan organisasi. Sebab, representatif membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berbicara. Ia harus memiliki keteguhan hati, kesabaran, serta kesediaan untuk tumbuh bersama anggota.

Sementara itu, Primuhardi, S.E. memberikan penekanan pada integritas dan komitmen moral. Para calon representatif diajak membangun kesadaran untuk menjauhi praktik korupsi, penyalahgunaan kewenangan, dan tindakan yang dapat merugikan anggota maupun organisasi. Ia juga memberikan pemahaman bahwa penghargaan atau imbalan yang diterima representatif akan disesuaikan dengan kondisi dan perkembangan KSU.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam taftisy. Koperasi hanya dapat bertumbuh apabila dikelola oleh orang-orang yang jujur, transparan, bertanggung jawab, dan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Karena itu, proses taftisy tidak semata-mata mencari sosok yang cakap, tetapi juga pribadi yang memiliki karakter kuat dan dapat dipercaya.

Melalui dialog yang terbuka, tim mufattis berusaha menemukan kekuatan, pengalaman, gagasan, sekaligus kesiapan setiap calon. Para peserta pun memperoleh kesempatan untuk memahami bahwa menjadi representatif berarti bersedia hadir di tengah anggota, mendengarkan kebutuhan masyarakat, memperluas jaringan, dan membuka peluang-peluang usaha baru.

Taftisy calon representatif ini menjadi bagian dari ikhtiar KSU Desa Kota Indonesia dalam membangun organisasi yang semakin kuat, profesional, dan berakar di tengah masyarakat. Dari Kota Tangerang, Kabupaten Lebak, hingga lingkungan Istri Civitas Al-Zaytun, para calon representatif diharapkan mampu menjadi jembatan yang menghubungkan gagasan besar koperasi dengan tindakan nyata di lapangan.

Sebab, kemajuan koperasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya modal, banyaknya unit usaha, atau luasnya jaringan. Kemajuan itu terutama lahir dari manusia-manusia yang bersedia bekerja dengan penuh dedikasi, menjaga kejujuran, serta bergerak bersama demi terwujudnya kesejahteraan anggota dari desa hingga kota.